Arkalearn
Blog
6 Jenis Bangunan Tradisional Jepang dan Filosofi di Baliknya

6 Jenis Bangunan Tradisional Jepang dan Filosofi di Balik Desainnya
Jepang dikenal sebagai negara yang mampu mempertahankan budaya tradisional di tengah perkembangan teknologi yang sangat modern. Salah satu bentuk budaya tersebut dapat kita lihat dari arsitektur dan bangunan tradisional Jepang.
Jika diperhatikan, bangunan Jepang mempunyai karakter yang cukup mudah dikenali. Ada rumah kayu dengan fasad sederhana, kuil dengan gerbang torii, rumah beratap sangat curam hingga pagoda bertingkat yang menjulang tinggi.
Namun, bentuk-bentuk tersebut bukan sekadar dibuat agar terlihat indah.
Desain bangunan tradisional Jepang banyak dipengaruhi oleh kondisi alam, iklim, kebutuhan masyarakat, sejarah, hingga kepercayaan yang berkembang di Jepang.
Bagi kamu yang sedang belajar bahasa Jepang atau mempersiapkan diri untuk tinggal dan bekerja di Jepang, mengenal jenis bangunan ini juga bisa menjadi cara menarik untuk memahami budaya Jepang lebih dalam.
Lalu, apa saja bangunan tradisional Jepang yang perlu kamu kenal?
Mari kita bahas satu per satu.
Mengenal Arsitektur Tradisional Jepang
Arsitektur tradisional Jepang berkembang selama ratusan tahun dan mendapat berbagai pengaruh dari kondisi geografis serta budaya masyarakatnya.
Salah satu karakter yang paling mudah ditemukan adalah penggunaan material alami, khususnya kayu.
Banyak bangunan tradisional Jepang menggunakan kayu sebagai struktur utama. Selain relatif mudah diperoleh pada masa lalu, kayu memungkinkan pembangunan rumah yang fleksibel dan sesuai dengan lingkungan Jepang.
Konsep ruang dalam arsitektur Jepang juga cenderung menekankan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Karena itulah, pada rumah tradisional Jepang kita sering menemukan penggunaan pintu geser, beranda, taman, hingga bukaan yang memungkinkan cahaya dan udara masuk ke dalam rumah.
Namun, tidak semua bangunan Jepang mempunyai fungsi yang sama.
Ada bangunan untuk tempat tinggal, penyimpanan barang, aktivitas keagamaan hingga bangunan yang memiliki nilai simbolis.
Berikut enam jenis yang menarik untuk diketahui.
1. Machiya (町家)
Rumah Tradisional di Tengah Kota Jepang
Machiya (町家) merupakan salah satu bentuk rumah tradisional Jepang yang banyak berkembang di kawasan perkotaan.
Bangunan ini sangat identik dengan kota-kota bersejarah seperti Kyoto.
Salah satu karakteristik yang menarik dari machiya adalah bentuk lahannya.
Bagian depan bangunan biasanya relatif sempit, tetapi rumah memanjang jauh ke bagian belakang.
Karakteristik umum machiya antara lain:
- fasad bangunan relatif sempit;
- bangunan memanjang ke belakang;
- banyak menggunakan material kayu;
- bagian depan dapat digunakan sebagai area usaha atau toko;
- bagian dalam berfungsi sebagai tempat tinggal.
Konsep tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Jepang pada masa itu menyesuaikan bangunan dengan kondisi lahan perkotaan.
Dalam beberapa machiya, bagian depan rumah digunakan sebagai mise, yaitu area yang berkaitan dengan aktivitas perdagangan, sementara bagian lainnya digunakan sebagai ruang kehidupan keluarga.
Filosofi Machiya
Machiya memperlihatkan kemampuan masyarakat Jepang dalam memanfaatkan ruang yang terbatas secara efisien.
Walaupun berada di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas, rumah tetap dirancang agar aktivitas ekonomi dan kehidupan keluarga dapat berlangsung dalam satu bangunan.
Konsep seperti ini masih sangat relevan dengan kehidupan perkotaan Jepang saat ini, ketika penggunaan ruang menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pembangunan hunian.
2. Kominka (古民家)
Rumah Tradisional yang Sarat Kehangatan
Berikutnya ada Kominka (古民家).
Secara sederhana, istilah ini digunakan untuk menyebut rumah tradisional Jepang yang sudah tua. Bentuk dan karakter kominka dapat berbeda-beda tergantung daerah, periode pembangunan, serta kehidupan masyarakat setempat.
Berbeda dengan machiya yang sangat identik dengan lingkungan perkotaan, kominka sering diasosiasikan dengan suasana pedesaan Jepang.
Beberapa karakteristik yang dapat ditemukan pada kominka adalah:
- penggunaan kayu sebagai struktur utama;
- konstruksi tradisional;
- penggunaan material alami;
- ruang yang disesuaikan dengan kehidupan keluarga;
- desain yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan setempat.
Saat melihat kominka, kita bisa merasakan kesan sederhana, alami, dan hangat.
Filosofi Kominka
Salah satu hal menarik dari kominka adalah hubungan antara manusia, rumah, dan alam.
Material yang digunakan pada rumah-rumah tradisional banyak berasal dari lingkungan sekitar. Bentuk bangunannya pun disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada zamannya.
Karena itu, kominka bisa menjadi gambaran tentang kehidupan masyarakat Jepang sebelum munculnya hunian modern seperti yang banyak kita temukan sekarang.
Saat ini, sebagian kominka juga direstorasi dan dimanfaatkan kembali sebagai rumah tinggal, penginapan, restoran, kafe, maupun fasilitas wisata.
3. Gassho-zukuri (合掌造り)
Atap Curam untuk Menghadapi Salju
Kalau kamu pernah melihat foto desa tradisional Jepang dengan rumah-rumah beratap sangat curam dan tertutup salju, kemungkinan besar kamu sedang melihat rumah bergaya Gassho-zukuri (合掌造り).
Gaya arsitektur ini sangat terkenal di kawasan seperti Shirakawa-go dan Gokayama.
Hal yang paling mencolok tentu bentuk atapnya.
Atap gassho-zukuri mempunyai kemiringan yang sangat curam dan terlihat seperti dua telapak tangan yang disatukan ketika seseorang sedang berdoa.
Dari situlah istilah gassho berasal.
Beberapa cirinya adalah:
- atap berbentuk sangat curam;
- menggunakan konstruksi tradisional;
- banyak ditemukan di wilayah dengan musim dingin dan salju berat;
- bentuk atap membantu menghadapi kondisi lingkungan setempat.
Mengapa Atapnya Sangat Curam?
Desain tersebut bukan sekadar pilihan estetika.
Daerah pegunungan Jepang tertentu dapat menerima salju dalam jumlah besar pada musim dingin. Atap yang curam membantu mengurangi penumpukan salju berlebihan pada bangunan.
Inilah contoh menarik bagaimana arsitektur tradisional Jepang beradaptasi dengan alam.
Bentuk bangunan muncul sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat yang hidup dalam kondisi geografis tertentu.
Filosofi Gassho-zukuri
Gassho-zukuri menunjukkan bahwa bangunan yang baik bukan hanya harus terlihat menarik, tetapi juga perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Prinsip tersebut menjadi salah satu hal menarik dalam mempelajari arsitektur tradisional Jepang.
4. Kura (蔵)
Bangunan Penyimpanan Tradisional Jepang
Tidak semua bangunan tradisional Jepang dibuat sebagai tempat tinggal.
Ada pula Kura (蔵), yaitu bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan.
Pada masa lalu, masyarakat membutuhkan tempat yang lebih aman untuk menyimpan berbagai benda penting, mulai dari barang dagangan, dokumen, peralatan hingga barang berharga keluarga.
Karena fungsi tersebut, konstruksi kura berbeda dari rumah kayu biasa.
Karakteristiknya antara lain:
- mempunyai dinding relatif tebal;
- menggunakan konstruksi yang dirancang untuk perlindungan;
- beberapa jenis menggunakan lapisan plester;
- mempunyai bukaan yang relatif terbatas;
- digunakan untuk menyimpan barang.
Mengapa Kura Dibangun Lebih Kokoh?
Kebakaran merupakan salah satu risiko besar bagi permukiman tradisional yang didominasi bangunan kayu.
Karena itu, bangunan penyimpanan membutuhkan perlindungan lebih baik.
Kura kemudian berkembang dengan konstruksi yang membantu memberikan perlindungan terhadap isi bangunan, termasuk terhadap risiko kebakaran.
Filosofi Kura
Jika dikaitkan dengan fungsinya, kura menggambarkan nilai perlindungan, penyimpanan, dan keamanan terhadap harta benda.
Bangunan ini memperlihatkan bahwa arsitektur tradisional Jepang berkembang berdasarkan kebutuhan praktis masyarakat, bukan hanya persoalan keindahan.
5. Kuil Shinto atau Jinja (神社)
Ruang Sakral dalam Kepercayaan Shinto
Salah satu bangunan yang sangat mudah diasosiasikan dengan Jepang adalah Jinja (神社) atau kuil Shinto.
Salah satu elemen yang paling dikenal dari jinja adalah torii (鳥居).
Torii merupakan gerbang yang biasanya berada di bagian masuk atau area menuju tempat suci Shinto.
Gerbang berwarna merah atau vermilion memang sangat populer dalam berbagai foto wisata Jepang, tetapi bentuk dan warna torii sebenarnya dapat bervariasi.
Beberapa karakteristik kawasan jinja antara lain:
- terdapat torii;
- mempunyai area untuk melakukan penyucian sebelum beribadah;
- mempunyai bangunan utama atau area sakral;
- sering dirancang dengan hubungan yang kuat terhadap lingkungan alam.
Makna Torii
Torii mempunyai peranan simbolis yang penting.
Secara umum, melewati torii menandai perpindahan menuju ruang yang dianggap sakral.
Karena itu, keberadaan torii bukan sekadar dekorasi atau spot foto wisata.
Ketika mengunjungi Jepang, memahami hal tersebut membantu kita bersikap lebih tepat ketika memasuki lingkungan jinja.
Hubungan Shinto dengan Alam
Kepercayaan Shinto mempunyai hubungan erat dengan alam.
Hal tersebut juga dapat terlihat dari banyaknya jinja yang berada di kawasan hutan, pegunungan atau lingkungan alami lainnya.
Karena itulah, ketika berkunjung ke sebuah jinja, kita sering menemukan suasana yang tenang dengan pepohonan di sekelilingnya.
6. Pagoda (五重塔)
Bangunan Bertingkat yang Berkaitan dengan Buddhisme
Jenis bangunan berikutnya adalah pagoda.
Di Jepang, salah satu bentuk yang sangat terkenal adalah Gojū-no-tō (五重塔) atau pagoda lima tingkat.
Pagoda biasanya ditemukan di kompleks kuil Buddha dan mempunyai bentuk vertikal yang sangat khas.
Ciri yang mudah dikenali antara lain:
- bangunan terdiri atas beberapa tingkat;
- struktur menjulang secara vertikal;
- mempunyai atap pada setiap tingkat;
- berkaitan dengan kompleks dan tradisi Buddhis.
Pagoda menjadi salah satu ikon arsitektur Jepang yang sering muncul dalam foto, film, anime hingga materi promosi pariwisata Jepang.
Apa Makna Pagoda?
Pagoda Jepang berkembang dari tradisi arsitektur Buddhis dan berkaitan dengan fungsi serta simbolisme keagamaan.
Pada pagoda lima tingkat, jumlah tingkat juga kerap dijelaskan melalui simbolisme kosmologis Buddhis dalam tradisi Jepang.
Karena itu, pagoda sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai bangunan bertingkat yang indah.
Bangunan tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang perkembangan Buddhisme dan arsitektur di Jepang.
Perbedaan Machiya, Kominka, Gassho-zukuri, Kura, Jinja dan Pagoda
Agar lebih mudah mengingatnya, berikut gambaran sederhananya:
Jenis BangunanBahasa JepangFungsi/Karakter UtamaMachiya町家Rumah tradisional perkotaan, sering menggabungkan hunian dan usahaKominka古民家Rumah tradisional tua JepangGassho-zukuri合掌造りRumah beratap curam yang berkembang di daerah bersaljuKura蔵Bangunan untuk penyimpanan barangJinja神社Tempat suci dalam tradisi ShintoPagoda lima tingkat五重塔Bangunan bertingkat yang berkaitan dengan tradisi Buddhis
Dari keenam contoh tersebut terlihat bahwa arsitektur Jepang sangat beragam.
Setiap bangunan muncul dari kebutuhan dan konteks yang berbeda.
Mengapa Bangunan Tradisional Jepang Banyak Menggunakan Kayu?
Jika memperhatikan machiya, kominka, kuil hingga berbagai bangunan tradisional lainnya, kita akan sering menemukan kayu sebagai material penting.
Penggunaan kayu berkaitan dengan sejarah panjang teknik konstruksi Jepang serta ketersediaan material.
Selain itu, konstruksi kayu memungkinkan terciptanya berbagai elemen yang menjadi karakter rumah Jepang, seperti tiang, balok, lantai, pintu geser hingga struktur atap.
Namun penggunaan kayu juga membawa tantangan.
Salah satunya adalah risiko kebakaran.
Itulah mengapa bangunan seperti kura mempunyai karakter konstruksi berbeda karena fungsinya membutuhkan perlindungan tambahan terhadap barang yang disimpan.
Bangunan Jepang Dibentuk oleh Kondisi Alam
Salah satu pelajaran menarik dari arsitektur Jepang adalah bagaimana masyarakat menyesuaikan tempat tinggal dengan lingkungan.
Contoh yang paling jelas adalah gassho-zukuri.
Rumah tersebut berkembang di kawasan yang menghadapi salju tebal sehingga desain atapnya disesuaikan dengan kondisi tersebut.
Sementara itu, karakter bangunan di kawasan perkotaan bisa berbeda karena tantangan utamanya adalah keterbatasan lahan.
Machiya menjadi salah satu contohnya.
Artinya, ketika melihat bangunan tradisional Jepang, kita sebenarnya sedang melihat hasil adaptasi masyarakat terhadap iklim, geografis, aktivitas ekonomi, budaya, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari.
Belajar Bahasa Jepang Sekaligus Memahami Budayanya
Belajar bahasa Jepang akan menjadi jauh lebih menarik ketika kita tidak hanya menghafalkan kosakata dan tata bahasa.
Budaya membantu kita memahami konteks penggunaan sebuah kata.
Dari artikel ini saja, kamu sudah bisa mengenal beberapa kosakata baru:
町家 (machiya) – rumah kota tradisional
古民家 (kominka) – rumah tradisional tua
合掌造り (gasshō-zukuri) – gaya rumah beratap curam
蔵 (kura) – gudang/bangunan penyimpanan
神社 (jinja) – kuil Shinto
鳥居 (torii) – gerbang pada tempat suci Shinto
五重塔 (gojū-no-tō) – pagoda lima tingkat
Kosakata seperti 神社 (jinja) dan 鳥居 (torii) bahkan cukup mungkin kamu temukan ketika membaca teks bahasa Jepang atau menjalani kehidupan sehari-hari di Jepang.
Karena itu, belajar budaya dapat menjadi pelengkap yang sangat baik dalam proses belajar bahasa.
Kenapa Pengetahuan Budaya Penting Kalau Ingin Kerja di Jepang?
Bagi calon pekerja Indonesia, persiapan bekerja ke Jepang bukan hanya persoalan lulus JLPT, JFT-Basic atau ujian keterampilan SSW.
Kamu nantinya akan tinggal di lingkungan dengan kebiasaan, norma sosial, bahasa, dan budaya yang berbeda.
Memahami budaya Jepang sejak masih berada di Indonesia dapat membantu mengurangi culture shock ketika tiba di Jepang.
Mulailah dari hal sederhana seperti mengenal transportasi, etika di tempat umum, kebiasaan masyarakat, musim di Jepang, makanan hingga bangunan yang akan sering kamu jumpai.
Semakin banyak konteks budaya yang kamu pahami, semakin mudah pula menghubungkan materi bahasa Jepang dengan kehidupan nyata.
Kesimpulan
Bangunan tradisional Jepang ternyata bukan cuma menarik dari sisi estetika.
Di balik bentuknya terdapat cerita mengenai bagaimana masyarakat Jepang menjalani kehidupan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Machiya menunjukkan adaptasi terhadap kehidupan perkotaan. Kominka memperlihatkan karakter rumah tradisional masyarakat Jepang. Gassho-zukuri menjadi contoh adaptasi terhadap wilayah bersalju. Kura dibuat untuk kebutuhan penyimpanan dan perlindungan. Jinja berkaitan dengan tradisi Shinto, sedangkan pagoda erat dengan perkembangan Buddhisme.
Itulah mengapa mempelajari bangunan Jepang juga berarti mempelajari sebagian dari sejarah, kehidupan, kepercayaan, dan budaya masyarakat Jepang.
Mau Belajar Bahasa Jepang untuk Persiapan Kerja di Jepang?
Kalau tujuanmu bukan hanya mengenal budaya Jepang tetapi juga ingin mempersiapkan kemampuan bahasa Jepang untuk Tokutei Ginou (SSW) maupun kerja di Jepang, kamu bisa belajar secara lebih terarah bersama Arkalearn.
Materinya dapat diarahkan mulai dari dasar bahasa Jepang hingga persiapan kemampuan bahasa yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja di Jepang.
Untuk informasi program belajar, cek halaman Kursus Bahasa Jepang untuk Kerja di Jepang di Arkalearn.
Sedangkan kalau kamu sudah mempunyai kemampuan bahasa Jepang dan sedang mencari kesempatan kerja, kamu juga bisa melihat informasi lowongan kerja Jepang terbaru di Semuabisakerja.id.
Belajar bahasanya di Arkalearn, cari peluang kerjanya di Semuabisakerja.






