Arkalearn
Blog
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pekerja Indonesia Saat Musim Panas di Jepang

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pekerja Indonesia Saat Musim Panas di Jepang
Musim panas di Jepang sering menjadi tantangan terbesar bagi pekerja Indonesia yang baru pertama kali datang ke Negeri Sakura. Banyak orang mengira karena Indonesia juga beriklim tropis, mereka tidak akan kesulitan beradaptasi. Kenyataannya, cuaca musim panas Jepang memiliki tingkat kelembapan yang jauh lebih tinggi sehingga tubuh terasa lebih cepat lelah dan kehilangan cairan.
Setiap tahun, pemerintah Jepang melaporkan ribuan kasus heatstroke (熱中症 / netsuchūshō), termasuk yang dialami pekerja asing. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah apabila pekerja memahami kebiasaan yang tepat selama musim panas.
Sayangnya, masih banyak kesalahan yang sering dilakukan pekerja Indonesia saat musim panas di Jepang. Mulai dari menunda minum hingga mengabaikan gejala awal heatstroke. Artikel ini membahas berbagai kesalahan tersebut beserta solusi praktis agar Anda dapat bekerja dengan aman, nyaman, dan tetap produktif.
Mengapa Musim Panas di Jepang Perlu Diwaspadai?
Musim panas di Jepang berlangsung sekitar bulan Juni hingga September. Pada bulan Juli dan Agustus, suhu dapat mencapai 35°C bahkan lebih tinggi, dengan kelembapan udara hingga 80–90%.
Kombinasi suhu tinggi dan udara lembap membuat tubuh lebih sulit mengeluarkan panas melalui keringat. Akibatnya, risiko dehidrasi dan heatstroke meningkat, terutama bagi pekerja yang beraktivitas di luar ruangan atau di area produksi yang panas.
Banyak pekerja Indonesia baru menyadari beratnya musim panas setelah mulai bekerja di Jepang. Karena itu, memahami kesalahan-kesalahan umum menjadi langkah awal untuk mencegah masalah kesehatan.
1. Menunggu Haus Baru Minum
Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan.
Banyak orang terbiasa minum hanya ketika merasa haus. Padahal, rasa haus merupakan tanda bahwa tubuh sudah mulai mengalami kekurangan cairan.
Saat bekerja di pabrik, gudang, pertanian, atau konstruksi, tubuh kehilangan cairan melalui keringat dalam jumlah besar.
Solusinya
- Minum sedikit tetapi rutin setiap 20–30 menit.
- Selalu sediakan botol minum di dekat area kerja (sesuai aturan perusahaan).
- Sesekali konsumsi minuman elektrolit untuk mengganti mineral yang hilang.
2. Tidak Membawa Botol Minum
Sebagian pekerja mengandalkan mesin penjual minuman (vending machine) atau minimarket.
Padahal, tidak semua lokasi kerja memiliki akses yang dekat ke tempat membeli minuman.
Selain itu, kebiasaan membeli minuman setiap hari juga membuat pengeluaran menjadi lebih besar.
Solusinya
Gunakan tumbler atau botol minum berkapasitas 500–750 ml yang mudah dibawa. Selain lebih hemat, Anda juga bisa mengisi ulang air di kantor atau asrama.
3. Memakai Pakaian Terlalu Tebal
Ada pekerja yang tetap memakai pakaian berlapis karena takut kulit menjadi gelap atau merasa lebih nyaman.
Namun, pakaian yang terlalu tebal membuat panas tubuh sulit keluar sehingga risiko heatstroke meningkat.
Solusinya
Pilih pakaian berbahan:
- Dry Fit,
- cepat menyerap keringat,
- ringan,
- memiliki sirkulasi udara yang baik.
Jika perusahaan mewajibkan seragam, gunakan inner berbahan Dry Fit agar tubuh tetap nyaman.
4. Malu Meminta Izin Istirahat
Sebagian pekerja Indonesia merasa sungkan meminta izin ketika mulai merasa pusing atau lelah.
Mereka khawatir dianggap tidak kuat bekerja atau merepotkan rekan kerja.
Padahal, di Jepang keselamatan kerja merupakan prioritas utama. Atasan umumnya akan lebih menghargai pekerja yang melapor lebih awal daripada memaksakan diri hingga pingsan.
Solusinya
Jika mulai merasa:
- pusing,
- mual,
- tubuh sangat lemas,
- pandangan kabur,
segera sampaikan kondisi kepada atasan atau supervisor.
Gunakan kalimat sederhana seperti:
少し休ませてください。
Sukoshi yasumasete kudasai.
"Tolong izinkan saya beristirahat sebentar."
5. Mengabaikan Tanda-Tanda Heatstroke
Kesalahan berikutnya adalah menganggap gejala awal heatstroke sebagai hal biasa.
Misalnya:
- sakit kepala,
- kram otot,
- berkeringat berlebihan,
- wajah memerah,
- tubuh terasa sangat panas.
Jika gejala tersebut diabaikan, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke berat yang memerlukan penanganan medis.
Solusinya
Segera hentikan aktivitas, pindah ke tempat yang teduh atau ber-AC, minum air atau minuman elektrolit, dan dinginkan tubuh dengan handuk basah atau kompres dingin.
6. Tidak Membawa Perlengkapan Musim Panas
Banyak pekerja baru tidak mengetahui bahwa ada perlengkapan sederhana yang sangat membantu saat musim panas.
Contohnya:
- cooling towel,
- kipas portable,
- topi,
- sunscreen,
- payung UV,
- tablet garam,
- botol minum.
Perlengkapan ini sangat umum digunakan masyarakat Jepang dan terbukti membantu mengurangi risiko kepanasan.
7. Kurang Tidur Sebelum Bekerja
Tubuh yang kurang istirahat lebih sulit mengatur suhu saat cuaca panas.
Akibatnya, pekerja lebih cepat lelah, sulit berkonsentrasi, dan rentan mengalami heatstroke.
Solusinya
Usahakan tidur 7–8 jam setiap malam, terutama jika Anda bekerja pada shift pagi atau melakukan pekerjaan fisik.
8. Mengabaikan Informasi Cuaca
Di Jepang, informasi cuaca sangat mudah diakses melalui aplikasi maupun televisi.
Saat pemerintah mengeluarkan Heatstroke Alert, artinya risiko kepanasan berada pada tingkat tinggi.
Sayangnya, masih banyak pekerja yang tidak memperhatikan informasi tersebut.
Solusinya
Biasakan memeriksa prakiraan cuaca setiap pagi sebelum berangkat bekerja agar Anda dapat menyiapkan pakaian dan perlengkapan yang sesuai.
9. Tidak Mengonsumsi Makanan yang Cukup
Cuaca panas sering membuat nafsu makan menurun.
Namun, tubuh tetap membutuhkan energi dan mineral agar dapat bekerja dengan baik.
Pilihan Makanan yang Dianjurkan
- buah-buahan,
- sayuran,
- sup miso,
- ikan,
- telur,
- makanan tinggi protein,
- minuman elektrolit.
10. Menganggap Heatstroke Tidak Berbahaya
Ini merupakan kesalahan paling fatal.
Heatstroke bukan sekadar merasa kepanasan. Dalam kondisi tertentu, suhu tubuh dapat meningkat hingga lebih dari 40°C dan menyebabkan kerusakan organ apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, jangan pernah mengabaikan gejala awal sekecil apa pun.
Tips Agar Tetap Aman Selama Musim Panas
Agar dapat bekerja dengan nyaman selama musim panas di Jepang, biasakan melakukan beberapa hal berikut:
- Minum air secara rutin.
- Gunakan pakaian yang nyaman.
- Istirahat saat tubuh mulai lelah.
- Gunakan cooling towel dan kipas portable.
- Periksa prakiraan cuaca setiap hari.
- Jangan malu meminta bantuan ketika merasa tidak sehat.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu Anda mengurangi risiko heatstroke dan menjaga produktivitas selama bekerja.
Tingkatkan Kemampuan Bahasa Jepang Bersama ArkaLearn
Selain menjaga kesehatan, kemampuan berbahasa Jepang juga sangat penting agar Anda dapat berkomunikasi dengan atasan ketika membutuhkan bantuan atau ingin menyampaikan kondisi kesehatan.
👉 Mau menggunakan bahasa Jepang seperti ini saat bekerja?
Pelajari bersama ArkaLearn melalui program Kursus Bahasa Jepang Online untuk Kerja ke Jepang.
Cari Lowongan Kerja Jepang Terbaru
Sudah siap bekerja di Jepang?
Temukan berbagai lowongan kerja resmi program Tokutei Ginou (SSW), Gijinkoku, hingga berbagai sektor industri melalui portal lowongan terpercaya.
👉 Lihat lowongan terbaru di:
Artikel Terkait
Untuk membantu Anda mempersiapkan keberangkatan ke Jepang, baca juga artikel berikut:
- Tips Mencegah Heatstroke Saat Bekerja di Jepang
- cara menghadapi musim panas pertama di jepang
- barang wajib dibawa saat musim panas di jepang untuk pekerja ssw
- persiapan visa tokutei ginou di jepang
Kesimpulan
Sebagian besar kesalahan yang sering dilakukan pekerja Indonesia saat musim panas di Jepang sebenarnya dapat dicegah dengan pengetahuan dan kebiasaan yang tepat. Menunda minum hingga haus, tidak membawa botol minum, memakai pakaian terlalu tebal, malu meminta izin istirahat, hingga mengabaikan tanda-tanda heatstroke merupakan kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Dengan memahami karakteristik musim panas Jepang, mempersiapkan perlengkapan yang sesuai, menjaga pola hidup sehat, serta berani berkomunikasi ketika kondisi tubuh mulai menurun, Anda dapat menjalani pekerjaan dengan lebih aman dan nyaman. Persiapan yang baik tidak hanya membantu menjaga kesehatan, tetapi juga membuat pengalaman bekerja dan tinggal di Jepang menjadi lebih menyenangkan.






